Lo pernah dapet penawaran asuransi mobil yang preminya jauh lebih murah, tapi syaratnya harus pasang “dongle” kecil di mobil atau setuju buat pake aplikasi tertentu? Nah, itu dia penjaraipannya. Itu bukan cuma alat pelacak. Itu adalah mata-mata AI yang lagi nge-rate cara lo nyetir.
Dan ini bukan cuma soal lo bayar lebih mahal atau lebih murah. Tapi tentang akses. Akses ke diskon bengkel, prioritas klaim, bahkan fitur mobil lo sendiri bisa dibuka atau dikunci berdasarkan skor perilaku AI itu.
Jadi, bayangin besok lo nyetir agak ugal-ugalan dikit, eh tau-tau aplikasi mobil listrik lo nundain fitur “sport mode”-nya. Atau karena lo sopan banget nyetir, dapet voucher gratis cuci mobil. Ini bukan lagi fiksi. Ini kenyataan yang udah jalan.
Data Apa Sih yang Sebenarnya Mereka Kumpulin? Bukan Cuma Ngebut!
Mereka ngelacak hal-hal yang mungkin nggak pernah lo pikirin. Ini bukan cuma “apakah lo ngebut?”. Tapi:
- Seberapa halus lo nginjek rem dan gas. Apakah lo suka ngerem mendadak? Atau pelan-pelan? Ini nunjukin seberapa aware lo sama kondisi jalan.
- Waktu nyetir lo. Nyetir jam 2 malem di hari kerja dinilai lebih berisiko daripada jam 5 sore.
- Pilihan rute lo. Apakah lo lebih milih jalan tol yang relatif aman, atau nekad lewat jalur tikus yang semrawut?
- Penggunaan ponsel. Bahkan cuma nelpon lewat fitur handsfree aja bisa kena catet.
Data-data mikro inilah yang dirangkai jadi sebuah skor perilaku. Sebuah angka yang nentuin nasib lo sebagai pengendara di mata perusahaan asuransi.
Dampaknya Luas Banget: Dari Harga Premium Sampai Akses Fitur Mobil
- Contoh Spesifik: Sistem “Safe Driving Bonus”.
Perusahaan asuransi Takaful sekarang nawarin diskon premi sampai 25% buat pengemudi dengan skor tinggi. Tapi ini sistem reverse. Lo dapet diskon di awal, dan kalo skor lo jelek, premi lo bisa naik di periode berikutnya. Jadi rasanya kayak lagi dihukum, bukan dihargai. - Contoh Spesifik: Benefit Silang dengan Perusahaan Lain.
Ini yang jarang disadari. Sebuah survey internal industri asuransi kendaraan tahun 2024 nemuin bahwa 60% perusahaan sudah atau sedang dalam proses menjual data skor mengemudi anonim mereka ke jaringan bengkel, rental mobil, dan dealer. Skor lo yang bagus bisa jadi tiket buat dapet diskon servis di bengkel rekanan. Yang jelek? Dapet harga normal. Atau lebih parah, dicap “pengemudi berisiko” dan dikenain biaya tambahan. - Contoh Spesifik: Akses ke Fitur Kendaraan Dibatasi.
Untuk mobil-mobil connected car terbaru, pabrikan bisa aja ngasih akses over-the-air ke perusahaan asuransi. Skor lo jelek? Fitur seperti adaptive cruise control atau lane assist yang advance bisa aja dibatesin penggunaannya. Alasannya? “Kami rasa Anda belum cukup kompeten untuk menggunakan fitur ini dengan aman.” Gila nggak tuh?
Kesalahan Umum yang Bikin Skor Lo Jeblok (Tanpa Lo Sadari)
- Ngerem Dadakan. Ini pembunuh skor nomor satu. Meski demi keselamatan, AI anggap itu sebagai ketidakstabilan.
- Nyetir di Jam “Berisiko”. Pergi/pulang kerja di jam sibuk itu wajar. Tapi AI mungkin menilai periode padat itu lebih berbahaya, jadi skor lo bisa turun.
- Matiin Aplikasi atau GPS. Perusahaan asuransi bisa nganggep lo lagi sembunyiin sesuatu. Skor lo bisa langsung di-“flag” atau malah premi lo dinaikin karena dianggap tidak kooperatif.
Gimana Cara “Mainnya” biar Skor Tetep Hijau?
Ini bukan tentang menipu sistem. Tapi tentang memahami logikanya.
- Antisipasi, Jangan Reaktif. Jaga jarak ama mobil depan. Lihat lampu merah dari jauh, langsung lepas gas perlahan. Ini menunjukkan lo proaktif.
- Pilih Rute yang “Pintar”, Bukan Cuma Cepat. Kadang, rute yang lebih panjang tapi lancar nilainya lebih baik daripada rute pendek tapi semrawut dan penuh rem mendadak.
- Batas Waktu Mengemudi. Kalo bisa, hindari nyetir larut malam kecuali sangat mendesak. Sistem ngeliat itu sebagai peningkatan risiko.
- Rajin Cek Skor & Feedback. Buka aplikasi asuransi lo. Biasanya ada breakdownnya. Pelajari di area mana lo nilainya jelek, lalu perbaiki.
Kesimpulannya, kita udah masuk era dimana skor perilaku bukan cuma angka. Dia adalah mata uang baru untuk akses dan privilege di dunia berkendara. Asuransi nggak lagi jual produk, tapi jual “akses ke komunitas pengemudi yang dianggap baik”.
Kita bisa ngerasa ini mengintimidasi, atau kita bisa pinter-pinter mainin sistemnya. Dengan ngerti cara kerjanya, lo bukan cuma bisa hemat duit, tapi juga membukakan pintu ke benefit eksklusif yang nggak bisa diakses orang lain. So, masih mau ngebut-nebutan di tol?
